Sabtu, 17 November 2012

Karya Tulis Ilmiah

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Latar belakang penulis mengikuti study tour ini adalah sebagai salah satu syarat untuk tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas XII dan sebagai program kerja OSIS SMA N 1 kesesi tahun 2012/2013. Study tour ini atau Karya Tulis Ilmiah dilaksanakan setian tahun sekali. Selain itu study tour ini untuk menambah wawasan serta untuk menjernihkan pikiran yang selama ini digunakan untuk memikirkan pelajaran saja.
Museum Geologi merupakan salah satu objek studi tour yang dijadikan oleh penulis sebagai bahan karya tulis ilmiah ini. Penulis memilih karya tulis ini karena merupakan objek yang bagus dan berdasarkan hasil observasi dan penelitian pada studi tour tahun 2012.
Karya tulis ini dibuat berdasarkan hal-hal sebagai berikut :
a.         Mempelajari dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang kehidupan di bumi.
b.         Penulisan dan keuletan dalam pembuatan karya tulis, serta untuk menganalisa dan menarik kesimpulan.

1.2  Tujuan Masalah
Adapun tujuan penelitian dalam perumusan karya tulis ini adalah :
a.         Sebagai salah satu tugas untuk melengkapi mata pelajaran Bahasa Indonesia.
b.         Untuk menambah wawasan tentang kaidah yang terdapat di Museum Geologi.
c.         Melatih siswa dikemudian hari untuk menyusun laporan ke jenjang yang lebih tinggi.

1.3  Rumusan Masalah
Agar untuk memudahkan pembahasan penulis membagi permasalahan dan bentuk pertanyaan sebagai berikut :
a.              Bagaimana sejarah Museum Geologi ?
b.             Visi dan Misi serta Tugas Pokok dan Fungsi Museum Geologi.
c.              Bagaimana tata ruangan dalam Museum Geologi ?
d.             Bagaimana Koleksi purbakala Museum Geologi ?
1.4  Metode Penelitian
Metode yang disetujui dengan teknik Studi Kepustakaan.Yaitu pengetahuan yang bersumber dari media internet.Yang tentu ada kaitannya dengan masalah-masalah yang dibahas di dalam karya tulis ini.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Museum Geologi
Museum Geologi terletak di Jalan Diponegoro No. 57, Kota Bandung, Jawa Barat. Museum yang menyimpan dan mengelola berbagai macam materi geologi ini telah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda, tepatnya tanggal 16 Mei 1929. Adapun tujuan pendiriannya berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara oleh para ahli geologi bangsa Eropa yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 hingga timbulnya revolusi industri di daratan Eropa pada pertengahan abad ke-18.

Bangsa Belanda (salah satu negara di Benua Eropa) yang waktu itu berkuasa di tanah air, tentu saja sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri di negerinya sendiri. Oleh karena itu, mereka kemudian membentuk sebuah lembaga pada tahun 1850 bernama Dienst van het Mijnwezen yang bertujuan untuk melakukan penyelidikan geologi dan sumberdaya mineral.

Dienst van het Mijnwezen yang pada tahun 1922 berganti nama menjadi Dienst van den Mijnbouw ternyata sangat serius melakukan tugasnya dengan mengumpulkan berbagai macam batuan, mineral, fosil, laporan dan peta sehingga memerlukan tempat khusus untuk penyimpanan dan penganalisisan lebih lanjut dari bahan-bahan temuan tersebut.

Sebagai jalan keluarnya, mereka lalu membangun sebuah gedung tempat penyimpanan di Rembrandt Straat Bandung yang rancangannya digarap oleh Ir. Menalda van Schouwenburg dengan gaya art deco. Pembangunannya memerlukan waktu selama 11 bulan dengan 300 orang pekerja dan menghabiskan dana sekitar 400 Gulden. Sedangkan peresmiannya dilakukan pada tanggal 16 Mei 1929, hampir bertepatan dengan penyelenggaraan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress) di Bandung pada tanggal 18-24 Mei 1929. Gedung itu kemudian dinamakan Geologisch Laboratorium.

Saat Jepang menguasai Indonesia, pada tahun 1942 pihak Pemerintah Kolonial Belanda terpaksa menyerahkan kekuasaan teritorialnya termasuk di dalamnya gedung Geologisch Laboratorium melalui Letjen H. Ter Poorten (Penglima Tentara Sekutu di Hindia Belanda) kepada pihak Jepang yang diwakili oleh Panglima Tentara Jepang, Letjen H. Imamura di daerah Kalijati, Subang. Oleh Jepang Gedung Geologisch Laboratorium diganti namanya menjadi Kogyo Zimusho dan setahun kemudian diganti lagi menjadi Chishitsu Chosacho.

Setelah bangsa Indonesia merdeka, Gedung Chishitsu Chosacho diambil alih dan pengelolaannya berada dibawah Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG). Namun ketika tentara Belanda (NICA) datang lagi dengan membonceng Amerika Serikat dan Inggris, mereka berusaha menguasai kembali Chishitsu Chosacho pada 12 Desember 1945 yang menewaskan seorang pemuda bernama Sakiman, sehingga kantor PDTG terpaksa dialihkan atau dipindahkan ke Jalan Braga No. 3 dan 8.

Namun, kepindahan ke Jalan Braga ternyata tidak berlangsung lama karena sejak Desember 1945 hingga Desember 1949 terjadi pertempuran antara rakyat Indonesia melawan pasukan Belanda di berbagai daerah yang membuat kantor PDTG harus berpindah-pindah dari Bandung – Tasikmalaya – Magelang – Yogyakarta untuk menyelamatkan dokumen-dokumen penting hasil penelitian geologi. Dalam usaha menyelamatkan dokumen tersebut, pada tanggal 7 Mei 1949 Arie Frederik Lasut yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pusat Djawatan Tambang dan Geologi diculik dan dibunuh oleh tentara Belanda di Desa Pakem, Yogyakarta.

Setelah situasi politik dan keamanan di Indonesia terkendali, tahun 1950 kantor PDTG kembali lagi ke Geologisch Laboratorium dan berganti nama menjadi Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (DPRI). Nama DPRI tidak bertahan lama dan beberapa kali diganti hingga sekarang menjadi Pusat Survei Geologi. Nama-nama tersebut adalah: Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (1950-1952), Djawatan Geologi (1952-1956), Pusat Djawatan Geologi (1956-1957), Djawatan Geologi (1957-1963), Direktorat Geologi (1963-1978), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (1978-2005), dan Pusat Survei Geologi (akhir 2005 sampai sekarang).

Selain nama yang berganti-ganti, status museum pun juga berganti. Pada tahun 2002 melalui Kepmen No. 1725 tahun 2002 status museum yang tadinya Seksi Museum Geologi menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Balitbang Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Tiga tahun kemudian (akhir 2005), status UPT Museum Geologi berada dibawah Badan Geologi bersamaan dengan terbentuknya Badan Geologi sebagai Unit Eselon I di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
2.2  Visi dan Misi serta Tugas Pokok dan Fungsi Museum Geologi
·         Visi dan Misi
Visi dan misi Museum Geologi adalah mewujudkan sumber informasi berupa dokumentasi koleksi dan warisan geologi Indonesia yang profesional untuk masyarakat. Adapun misinya adalah: (1) memperagakan dan mengkomunikasikan koleksi museum; (2) menyediakan informasi dan materi edukasi geologi; (3) mendokumentasikan dan mengkonservasi koleksi museum; (4) melakukan penelitian koleksi dan pengembangan museum; (5) melakukan pameran museum dan geologi; (6) melakukan penyuluhan dan sosialisasi geologi; (7) melakukan kerja sama dengan instansi dan sekolah; (8) melakukan pengelolaan museum secara profesional; dan (9) memberkan pelayanan jasa permuseuman.
·         Tugas Pokok dan Fungsi
Tugas pokok Museum Geologi adalah sebagai penunjang dan operasional untuk melaksanakan penelitian, pengembangan dan konservasi serta memperagakan koleksi geologi. Sementara fungsinya adalah: (1) penyiapan rencana dan program penelitian, pengembangan, konservasi, peragaan dan publikasi koleksi geologi; (2) pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan dokumentasi; (3) pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan peragaan; (4) pelaksanaan penelitian dan pengembangan serta publikasi; (5) pelaksanaan dan pengembangan kerja sama serta pelayanan jasa permuseuman; (6) pelaksanaan ketatausahaan, kepegawaian, keuangan dan rumah tangga; dan (7) evaluasi pelaksanaan rencana dan program penelitian, pengembangan, konservasi, peragaan dan publikasi koleksi geologi.



2.3 Tata Ruangan Dalam Museum Geologi
·         Lantai I
Terbagi menjadi 3 ruang utama : Ruang orientasi di bagian tengah, Ruang Sayap Barat dan Ruang Sayap Timur. Ruang Orientasi berisi peta geografi Indonesia dalam bentuk relief layar lebar yang menayangkan kegiatan geologi dan museum dalam bentuk animasi, bilik pelayanan informasi museum serta bilik pelayanan pendidikan dan penelitian. Sementara, Ruang Sayap Barat, dikenal sebagai Ruang Geologi Indonesia, yang terdiri dari beberapa bilik yang menyajikan informasi tentang :
·       Hipotesis terjadinya bumi di dalam sistem tata surya.
·       Tatanan tektonik regional yang membentuk geologi Indonesia; diujudkan dalam bentuk maket model gerakan lempeng-lempeng kulit bumi aktif
·       Keadaan geologi sumatera,Jawa, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara serta Irian Jaya
·       Fosil fosil serta sejarah manusia menurut evolusi Darwin juga terdapat di sini
Selain maket dan panel-panel informasi, masing-masing bilik di ruangan ini juga memamerkan beragam jenis batuan (beku, sedimen, malihan) dan sumber daya mineral yang ada di setiap daerah. Dunia batuan dan mineral menempati bilik di sebelah baratnya, yang memamerkan beragam jenis batuan, mineral dan susunan kristalografi dalam bentuk panel dan peraga asli. Masih di dalam ruangan yang sama, dipamerkan kegiatan penelitian geologi Indonesia termasuk jenis-jenis peralatan/perlengkapan lapangan, sarana pemetaan dan penelitian serta hasil akhir kegiatan seperti peta (geolologi, geofisika, gunung api, geomorfologi, seismotektonik dan segalanya) dan publikasi-publikasi sebagai sarana pemasyarakan data dan informasi geologi Indonesia. Ujung ruang sayap barat adalah ruang kegunung apian, yang mempertunjukkan keadaan beberapa gunungapi aktif di Indonesia seperti : Tangkuban Perahu, Krakatau, Galunggung, Merapi dan Batu. Selain panel-panel informasi ruangan ini dilengkapi dengan maket kompleks Gunungapi Bromo-Kelut-Semeru. Beberapa contoh batuan hasil kegiatan gunung api tertata dalam lemari kaca.
Ruang Sayap Timur Ruangan yang mengambarkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, dari primitif hingga modern, yang mendiami planet bumi ini dikenal sebagai ruang sejarah kehidupan. Panel-panel gambar yang menghiasi dinding ruangan diawali dengan informasi tentang keadaan bumi yang terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, dimana makhluk hidup yang paling primitiv pun belum ditemukan. Beberapa miliar tahun sesudahnya, disaat bumi sudah mulai tenang, lingkungannya mendukung perkembangan beberapa jenis tumbuhan bersel-tunggal, yang keberadaan terekam dalam bentuk fosil Reptilia bertulang-belakang berukuran besar yang hidup menguasai Masa Mesozoikum Tengah hingga Akhir (210-65 juta tahun lalu) diperagakan dalam bentuk replika fosil Tyrannosaurus Rex Osborn (Jenis kadal buas pemakan daging) yang panjangnya mencapai 19 m, tinggi 6,5 m dan berat 8 ton. Kehidupan awal di bumi yang dimulai sekitar 3 miliar tahun lalu selanjutnya berkembang dan berevolusi hingga sekarang. Jejak evolusi mamalia yang hidup pada zaman Tersier (6,5-1,7 juta tahun lalu) dan Kuarter (1,7 juta tahun lalu hingga sekarang) di Indonesia terekam baik melalui fosil-fosil binatang menyusui (gajah, badak, kerbau, kuda nil) dan hominid yang ditemukan pada lapisan tanah di beberapa tempat khususnya di Pulau Jawa.
Kumpulan fosil tengkorak manusia-purba yang ditemukan di Indonesia (Homo erectus P. VIII) dan di beberapa tempat lainnya di dunia terkoleksi dalam bentuk replikanya. Begitu pula dengan artefak yang dipergunkan, yang mencirikan perkembangan kebudayaan-purba dari waktu ke waktu. Penampang stratigrafi sedimen Kuarter daerah Sangiran (Solo, Jawa Tengah), Trinil dan Mojokerto (Jawa Timur) yang sangat berarti dalam pengungkap sejarah dan evolusi manusia-purba diperagakan dalam bentuk panel dan maket.
Sejarah pembentukan Danau Bandung yang melegenda itu ditampilkan dalam bentuk panel di ujung ruangan. Fosil ular dan ikan yang ditemukan pada lapisan tanah bekas Danau Bandung serta artefak diperagakan dalam bentuk aslinya. Artefak yang terkumpul dari beberapa tempat di pinggiran Danau Bandung menunjukkan bahwa sekitar 6000 tahun lalu danau tersebut pernah dihuni oleh manusia prasejarah. Informasi lengkap tentang fosil dan sisa-sisa kehidupan masa lalu ditempatkan pada bilik tersendiri di Ruang Sejarah Kehidupan. Informasi yang disampaikan diantaranya adalah proses pembentukan fosil, termasuk batubara dan minyak bumi, selain keadaan lingkungan-purba.
·         Lantai II
Terbagi menjadi 3 ruangan utama: ruang barat, ruang tengah dan ruang timur. Ruang barat (dipakai oleh staf museum). Sementara ruang tengah dan ruang timur di lantai II yang digunakan untuk peragaan dikenal sebagai ruang geologi untuk kehidupan manusia.
Ruang Tengah Berisi maket pertambangan emas terbesar di dunia, yang terletak di Pegunungan Tengan Irian Jaya. Tambang terbuka Gransberg yang mempunyai cadangan sekitar 1,186 miliar ton; dengan kandungan tembaga 1,02%, emas 1,19 gram/ton dan perak 3 gram/ton. Gabungan beberapa tambang terbuka dan tambang bawahtanah aktif di sekitarnya memberikan cadangan bijih sebanyak 2,5 miliar ton. Bekas Tambang Ertsberg (Gunung Bijih) di sebelah tenggara Grasberg yang ditutup pada tahun 1988 merupakan situs geologi dan tambang yang dapat dimanfaatkan serta dikembangkan menjadi objek geowisata yang menarik. Beberapa contoh batuan asal Irian Jaya (Papua) tertata dan terpamer dalam lemari kaca di sekitar maket. Miniatur menara pemboran minyak dan gas bumi juga diperagakan di sini.
Ruang Timur Terbagi menjadi 7 ruangan kecil, yang kesemuanya memberikan informasi tentang aspek positif dan negatif tataan geologi bagi kehidupan manusia, khususnya di Indonesia.
·       Ruang 1 menyajikan informasi tentang manfaat dan kegunaan mineral atau batu bagi manusia, serta panel gambar sebaran sumberdaya mineral di Indonesia.
·       Ruang 2 menampilkan rekaman kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral
·       Ruang 3 berisi informasi tentang pemakaian mineral dalam kehidupan sehari-hari, baik secara tradisional maupun modern.
·       Ruang 4 menunjukkan cara pengolahan dan pengelolaan komoditi mineral dan energi
·       Ruang 5 memaparkan informasi tentang berbagai jenis bahaya geologi (aspek negatif) seperti tanah longksor, letusan gunung api dan sebagainya.
·       Ruang 6 menyajikan informasi tentang aspek positif geologi terutama berkaitan dengan gejala kegunungapian.
·       Ruang 7 menjelaskan tentang sumberdaya air dan pemanfaatannya, juga pengaruh lingkungan terhadap kelestarian sumberdaya tersebut.
2.4 Koleksi purbakala Museum Geologi
MUSEUM Geologi Bandung bukan hanya memiliki ratusan ribu batuan dan puluhan ribu fosil purba berumur puluhan jutaan tahun, tetapi juga memiliki koleksi langka yang tidak dimiliki museum lain di dunia seperti museum di Amerika atau di Eropa. Sekretaris Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Minelar (ESDM), DR. Yun Yunus Kusumabrata, didampingi Kabag Umum, Ir. Agung Pribadi mengatakan, Museum Geologi memiliki berbagai fosil hewan bertulang belakang (vertebrata) yang berasal dari Indonesia.
Di Museum Geologi terdapat fosil manusia purba serta fosli mahluk hidup lainnya. Fosil manusia purba yang ada disini yaitu :
a)    Meganehtropus Palaeojavanicus
Perawakan Megantropus Paleojavanicus diperkirakan tegap, diperkirakan masif dengan tulang pipi tebal tonjokannya belakang kepala yang tajam serta tempat pelekatan yang besar bagi otot-otot tengkuh yang kuat. Dengan gerakan yang besar, maka permukaan tengah banyak kerutan-kerutan dengan gigi yang sangat kuat.
b)   Phylecanthropus Erectus
Fosil ini banyak ditemukan di Indonesia. Tinggi badan diperkirakan antara 165 – 180 cm dengan tubuh dan anggota badan yang tegap, mukanya memiliki tonjolan kuning yang kua, hidung yang lebar dengan belakang kepala menyudut, isi tengkorak berkisar antara 750 – 100 cm.
c)    Homosapiens
Jenis Homosapiens memiliki ciri yang lebih maju dengan Phytecanthropus erectus. Berjalan dan berdiri tegak serta lebih sempurna, tinggi badannya antara 130 – 210 cm, mulanya datar dan lebar, akar hidung lebar dan bagian mulutnya agak sedikit menonjol, dahi membulat serta tinggi, sementara bagian belakang tengkorak juga membulat dengan rahang dan gigi mengecil dan lidah terlalu menonjol ke bagian depan. Volume tengkorak rata-rata antara 1350 – 1450 cm.


Disini juga terdapat fosil hewan dan tumbuhan diantaranya:
1)    ElephasMaximus
2)    Bovid
3)    Corvus59B
4)    Fosildaun
5)    CypirinisCarpio
6)    PhytonRetigulanus
Akan tetapi tidak kami jelaskan, hanya sebagian diantaranya :
1)      Fosil Phyton Reugulatius
Fosil ini merupakan fosli ular yang ditemukan di Indonesia, Ciharaman kabupaten Bandung. Diameter 5 m. Morfologinya mendekati jenis phyton rehtulatus, diperkirakan umurnya 30.000 - 40.000 tahun yang lalu.
2)      Elephand Maximus
Fosil gajah yang rahang bawahnya merupakan terlengkap jenisnya di Indonesia (saudara imam) pada waktu menggali sumur di rumahnya 16 Mei 2002 (teredap dalam batu pasir konglomerat 20.000 – 30.000 tahun yang lalu.
3)      Alat atau Benda pada Masa Lampau
Pada masa lalu manusia mempunyai berbagai alat yang digunakan sebagai kehidupannya sehari-hari yaitu :
                    i.          Alat batu, yaitu suatu alat yang terbuat dari bebatuan. Ragam alat batu diantaranya :
a.     Kapak Penimbas (Chopper)
b.    Serut genggam (Sropper)
c.     Kapak penerak (Chopping tool)
d.    Pahat genggam (hand adec)
e.     Kapak genggam awai (Proto hand axe)
                  ii.          Alat serpih
Adalah perkakas yang digunakan sebagai pisau, gurdi atau penusuk. Alat ini digunakan sebelum mengenal tulisan yakni digunakan sebagai mengupas, memotong atau juga menggali sejenis umbi-umbian.


                iii.          Alat tulang
Adalah perkakas yang bahan dasarnya terbuatdari tulang binatang.
Tulang-tulang ini dibentuk dari tulang hewan hasil buruan, biasanya sebelum digunakan sebagai alat biasa dibentuk sesuai kebutuhan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Museum geologi merupakan tempat dari hasil peninggalan-peninggalan pada zaman dulu yang baik sebagai tempat ilmu pengetahuan terutama dalam bidang pendidikan yang dilakukan oleh kalangan pelajar.
Permukaan bumi merupakan hasil ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang selalu mendapat perubahan dari zaman ke zaman.
3.2 Saran
Bagi pelajar khususnya dan bagi masyarakat umumnya dengan adanya Museum Geologi atau tempat sejenisnya agar dijaga kelestariaannya serta adanya perkembangan agar pada waktu kelak nanti para generasi penerus bisa mengetahuinya.
Permukaan bumi perlu dijaga dan dilestarikan agar alam tidak marah.

DAFTAR PUSTAKA
id.wikipedia.org/wiki/Museum_Geologi_Bandung
http://uun-halimah.blogspot.com/2011/12/museum-geologi.html


LAMPIRAN


Tidak ada komentar :

Poskan Komentar